RSS Feeds

Senin, 16 Januari 2012

Ragam Bacaan Al-Qur’an dalam Peristiwa Kematian

Al-Qur’an memang begitu lekat dalam hati umat Islam. Tidaklah heran ekspresi qur’ani umat Islam senantiasa mewujud dalam berbagai lini kehidupan. Hal ini tiada lain dan tiada bukan karena mereka meyakini bahwasannya Al-Qur’an ialah kalam Allah, kitab suci yang menyimpan sejuta makna dan petunjuk dalam kehidupan.Diantara berbagai ekspresi qur’ani tersebut kiranya tidaklah asing lagi bagi kita dalam hal kematian, yaitu suatu masa peralihan dari alam hidup ke alam ghaib. Kematian merupakan fenomena alamiah yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Kematian merupakan perpisahan antara ruh halus (nyawa) dengan tubuh kasar (jasad) untuk sementara waktu yang telah ditentukan oleh sang pencipta karena pada suatu masa akan dikembalikan lagi seperti semula.[1] Kematian juga diartikan sebagai peristiwa terputusnya hubungan horizontal yaitu hubungan si mayit dengan sesama manusia. Perpisahan itu dipenuhi rasa kesedihan dan duka yang mendalam dan tidak jarang perpisahan itu disertai dengan tangisan dan teriakan yang berlebihan seolah-olah tidak rela melepaskan kepergian si mayit dari pelukan keluarga yang ditinggalkannya.

Peristiwa kematian tersebut seringkali menimbulkan akibat bagi masyarakat atau orang yang ditinggalkannya. Dari sekian akibat yang ditimbulkan, adakalanya berhubungan dengan aktivitas yang barangkali merupakan suatu keharusan untuk melakukannya bagi orang yang ditinggalkannya. Aktivitas tersebut sangat erat kaitannya dengan keyakinan, adat-istiadat, atau kebudayaan masyarakat.[2]
Dalam peristiwa kematian seorang muslim--sebagai wujud dari ekspresi qur’ani-- terlihat jelas bahwa setiap terjadi peristiwa tersebut selalu ditemukan apa yang dinamakan bacaan Al-Qur’an. Dalam aktivitas yang kiranya merupakan suatu keharusan untuk melakukannya bagi orang terdekat atau keluarga yang ditinggalkannya tidak pernah terlepas dari bacaan Al-Qur’an. Aktivitas tersebut sangatlah beragam, sesuai dengan keyakinan, adat-istiadat, atau kebudayaan masyarakat.
Agama Islam sangat menghormati manusia baik yang ketika masih hidup maupun ketika sudah meninggal. Terdapat aturan-aturan tersendiri dalam Islam yang hendaknya dijalankan dalam rangka merawat orang yang meninggal sampai ke liang lahat. Sehingga dalam Islam anjuran yang pertama kali dibaca bagi orang yang mendengar berita kematian adalah dengan membaca kalimat istirja’ (Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun) kemudian menyegerakan diri datang untuk ber-ta’ziyah.[3] ( Potongan surat al-Baqarah [2] ayat 156 )
Terkait mengenai aktivitas tersebut dalam hal ini penulis akan memberikan pemaparan yakni mengenai aktivitas yang kerap kali ditemukan dalam komunitas masyarakat Jawa. Dalam komunitas masyarakat Jawa umumnya sering kali kita jumpai, dimana aktivitas terkait peristiwa kematian tersebut terdiri dari beberapa upacara, yaitu upacara pemberangkatan, pemakaman, dan upacara pasca pemakaman. Akan tetapi, perlu diketahui bahwa tiap-tiap daerah di Jawa tetap mempunyai keunikan tersendiri dalam rangkaian aktivitas tersebut. Tiap daerah di Jawa tidak akan pernah terlepas dari perbedaan dalam rangkaian aktivitas tersebut. Dalam hal ini penulis akan memaparkan sejauh observasi dan pengalaman. Diantara rangkaian aktivitas dalam peristiwa kematian tersebut, ialah sebagai berikut :
·      Upacara Pemberangkatan.
Dalam upacara ini dihadiri oleh banyak orang yang merupakan kesempatan untuk menunjukkan belasungkawa. Adapun mengenai susunan acara dalam upacara pemberangkatan ini[4], yaitu :
a)      Pembukaan
b)      Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an
c)      Mau’idzah
d)     Pamitan Atas Nama Ahli Waris
e)      Do’a dan Penutup
Mengenai bacaan Al-Qur’an dalam upacara ini pada umumnya ialah Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 153-157 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (153) وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ (154) وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمsَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)  
·      Upacara Telusupan / Terobosan
Upacara ini dilakukan ketika keranda jenazah hendak diberangkatkan. Di sebagian tempat, jika si mayit mempunyai anak, maka anak-anaknya tersebut disuruh untuk berjalan melewati bagian bawah keranda (baca: nerobos) sambil membaca surat al-Ikhlas.[5]
·      Upacara Pengiringan ke Tempat Pemakaman
Setelah berlangsungnya upacara pemberangkatan dan telusupan, kemudian dilanjutkan dengan pemberangkatan jenazah menuju tempat pemakaman. Dalam pemberangkatan ini bacaan yang mengiringi sampai ke tempat pemakaman ialah Kalimah Thoyyibah (Laa Ilaha Illa Allah).
·      Upacara Pemakaman.
Mengenai upacara pemakaman, yang seringkali kita jumpai ialah bacaan Kalimah Thoyyibah yang terangkai dalam bentuk adzan. Kemudian setelah selesainya proses pemakaman, maka dilanjutkan dengan talqin jenazah. Pada umumnya dalam talqin jenazah tersebut seringkali diawali dengan bacaan Q.S. Ali ‘Imron [3] ayat 185 :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185)
Selain itu di akhir acara sebelum para pengiring pulang terdapat hal yang menarik yaitu para pengiring secara bergantian bahkan acak-acakan mengambil segenggam tanah kuburan yang bagian bawah tersebut kemudian diletakkan kembali diatasnya dengan membaca surat al-Qadr.[6]
·      Upacara Pasca Pemakaman
Kemudian, setelah semua upacara dalam proses pemberangkatan serta pemakaman selesai dilakukan, maka berlanjut pada upacara pasca pemakaman. Upacara tersebut berupa acara yang dinamakan slametan atau kenduri, yaitu acara perjamuan makan yang diadakan dalam rangka memperingati suatu peristiwa.[7] Slametan yang merupakan upacara pasca pemakaman tersebut diadakan secara berturut, mulai dari hari dimana peristiwa kematian itu terjadi hingga satu, dua, bahkan tiga tahun setelah peristiwa kematian tersebut. Meskipun acara tersebut diakui maupun tidak telah menjadi tradisi, akan tetapi aneh dan ironisnya, acara tersebut diselenggarakan dari berbagai lapisan strata sosial.
Urutan acara slametan atau kenduri tersebut diawali pada hari pertama peristiwa kematian secara berturut hingga hari ke-7 pasca kematian yang disebut dengan pitung dinan. Selanjutnya, acara tersebut diadakan kembali pada 40 hari, 100 hari (nyatus), 1 tahun (pendhak pisan), 2 tahun (pendhak pindho), dan 1000 hari (nyewu) pasca kematian.
Mengenai bacaan Al-Qur’an yang digunakan dalam acara tersebut, adakalanya berbentuk acara yasinan, tahlilan, fida’an[8], dan bandre’an[9]. Adapun bacaan-bacaan Al-Qur’an dalam acara-acara tersebut yaitu :
·      Yasinan       : Q.S. Yaasiin
·      Tahlilan      : Q.S. al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Muawwidzatain, al-Baqarah : 1-5, 255, 284-286.
·      Fida’an       : Q.S. Al-Ikhlas.
·      Bandre’an  : Khataman Al-Qur’an yang dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan.



[1] Dalam masalah tersebut terdapat perbedaan pendapat, disatu pihak ada yang berpendapat bahwa ruh hanya berpisah sementara dengan jasadnya karena dialam kubur ruh akan mengalami penyiksaan ataupun sebaliknya (ruh akan kembali lagi ke jasad seperti ketika masih hidup) untuk dimintai pertanggungjawaban. Sehubungan dengan itu, ruh dan jasad ketika bersatu lagi dalam alam kubur maka ia akan mendengar segala sesuatu di sekelilingnya sehingga muncullah suatu kepercayaan untuk membacakan talqin kepada mayit. Di lain pihak, justru berpendapat bahwa ruh akan berpisah dengan jasad selamanya sehingga kelak nanti yang akan dibangkitkan untuk dimintai pertanggungjawaban hanya ruhnya saja. Lihat: Dalimi Lubis, Alam Barzakh (Alam Kubur) cet II (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985), hlm. 108-112
[2] Nurul Hidayah, “Analisis Simbol Terhadap Upacara Kematian pada Masyarakat Desa Sinduharjo, Ngaglik, Sleman DIY”, dalam Skripsi Fakultas Adab Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, 2006, hlm. 32.
[3] M. Ali Chasan Umar, Alam Kubur: digali dari al-Qur’an dan al-Hadis (Semarang: Toha Putera, t.th), hlm. 126.
[4] Hasil observasi dan wawancara penulis di daerah Krapyak Wetan-Sewon-Bantul-Yogyakarta.
[5] Hasil observasi dan pengalaman penulis di daerah Catakgayam-Mojowarno-Jombang.                      
[6] Hasil observasi dan pengalaman penulis di daerah Catakgayam-Mojowarno-Jombang.                      
[7] Tim Redaksi, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta :Pusat Bahasa, 2008), hlm. 734.
[8] Pengalaman penulis di daerah Magetan-Jawa Timur. Fida’an adalah selamatan yang diadakan pasca kematian yang berupa bacaan al-Qur’an yaitu surat al-Ikhlas dan kalimat thayyibah, yang dibacakan dengan jumlah yang banyak.
[9] Khataman al-Qur’an yang dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...